Kehidupanku terasa begitu sempurna saat dalam kehidupanku hadir seorang bidadari cantik. Ku sebut saja dia bulan, karena kecantikan hatinya yang terang laksana bulan purnama. Dia wanita sejati yang pernah aku temui. Baik, sopan, pemalu, dan setia. Sayang kesetiaannya tidak sebanding dengan kesetiaanku. Tapi aku yakin dia tetap setia walaupun aku pernah mengkhianatinya.
Aku masih ingat saat ia menangis di sampingku. Betapa bingungnya aku. Hatinya yang suci telah aku lukai. Padahal di situ hanya tersimpan untuk hatiku. Tawanyapun semakin memudar, terkikis oleh tangis.
Suatu ketika aku menghubunginya. Mencoba menjalin hubungan baru tapi tanpa ada ikatan cinta. Dia hanya terdiam, merenung mungkin. Namun tiba-tiba saja dia menanyakan kesetiaanku "Akankah bintang kan selalu bersama bulan" dan dia menanyakan "Apakah cinta untuk selama-lamanya masih berlaku ataukah sudah kadaluarsa?". Getir hatiku saat mendengar pertanyaan itu. "Maaf" dan Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Kami kembali terdiam. Cukup lama entah apa yang sama-sama kami pikirkan.
"Eh, Lagi sibuk apa?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana
"Buat kebaya untuk pengantin"
"Wah mau Mariage nie?" Spontanitas aku mengucapkan hal ini
"Ya, insyaallah" Ups
"Kamu bakal dateng gak ke pernikahanku?" Tanyanya kemudian
"Inyaallah, selama ada teman dan diundang" Jawabku sok tegar
Cukup lama juga dia terdiam,
"Gak wes aku gak mau kamu liat kesedihanku" Mendadak dia mengagetkan lalu terdiam lagi.
Itulah percakapan yang aku ingat sewaktu aku ketemu sama Fitria, teman sekolah sewaktu masih di SMP. Sewaktu dia mengabarkan bahwa bulan telah atau akan menikah. Pastinya aku kurang paham. Tapi yang aku yakini mungkin dia telah bersama lelaki lain. Pilihan orang tuanya, dan yang pasti tidak begitu dicintainya.
Aku tak ingin sedikitpun menanyakan kebenaran hal ini padanya. Buat apa? Toh aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku pengecut, dan aku gak yakin dengan perasaanku. Biarlah semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Biarlah pula malam ini hanya ada bintang. Karena kulihat langit mendung dan bulan tak jua mau tampak.
Semoga Kamu Bahagia, Bulan
Bintang akan selalu menjagamu, dari sini...
Aku masih ingat saat ia menangis di sampingku. Betapa bingungnya aku. Hatinya yang suci telah aku lukai. Padahal di situ hanya tersimpan untuk hatiku. Tawanyapun semakin memudar, terkikis oleh tangis.
Suatu ketika aku menghubunginya. Mencoba menjalin hubungan baru tapi tanpa ada ikatan cinta. Dia hanya terdiam, merenung mungkin. Namun tiba-tiba saja dia menanyakan kesetiaanku "Akankah bintang kan selalu bersama bulan" dan dia menanyakan "Apakah cinta untuk selama-lamanya masih berlaku ataukah sudah kadaluarsa?". Getir hatiku saat mendengar pertanyaan itu. "Maaf" dan Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Kami kembali terdiam. Cukup lama entah apa yang sama-sama kami pikirkan.
"Eh, Lagi sibuk apa?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana
"Buat kebaya untuk pengantin"
"Wah mau Mariage nie?" Spontanitas aku mengucapkan hal ini
"Ya, insyaallah" Ups
"Kamu bakal dateng gak ke pernikahanku?" Tanyanya kemudian
"Inyaallah, selama ada teman dan diundang" Jawabku sok tegar
Cukup lama juga dia terdiam,
"Gak wes aku gak mau kamu liat kesedihanku" Mendadak dia mengagetkan lalu terdiam lagi.
Itulah percakapan yang aku ingat sewaktu aku ketemu sama Fitria, teman sekolah sewaktu masih di SMP. Sewaktu dia mengabarkan bahwa bulan telah atau akan menikah. Pastinya aku kurang paham. Tapi yang aku yakini mungkin dia telah bersama lelaki lain. Pilihan orang tuanya, dan yang pasti tidak begitu dicintainya.
Aku tak ingin sedikitpun menanyakan kebenaran hal ini padanya. Buat apa? Toh aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku pengecut, dan aku gak yakin dengan perasaanku. Biarlah semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Biarlah pula malam ini hanya ada bintang. Karena kulihat langit mendung dan bulan tak jua mau tampak.
Semoga Kamu Bahagia, Bulan
Bintang akan selalu menjagamu, dari sini...
Labels: Curhat
0 Comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)