Nah temen Yus yang jadi pihak ketiga inilah (Maaf ya...serius) yang pingin banget aku jadiin temen deket. Namanya Nunu, anaknya ramah, lucu, dan kliatannya kayak gak pernah susah menghadapi masalah. Jauh bertolak belakang dari sifatku. Entah kenapa tiba-tiba aku pingin banget deket dengan dia (eits.. jangan salah paham ya). Mungkin mengingat riwayat pertemananku yang kacau jadinya aku terobsesi untuk punya temen yang bisa perhatiin aku. Aku mulai mendekatinya dan terus mendekatinya (ceile..kayak mo cari pacar aja).

Kebetulan dia lagi butuh tempat kos, dan kebetulan juga mbakku lagi cari mahasiswa yang mau kos di rumah. Aku berupaya dengan Iyus untuk membujuk dia agar mau kos di sana. Alhasil setelah pertempuran yang panjang akhirnya dia mau juga. Setelah kos di rumah hubungan Nunu ma Iyus trus merenggang akibat permasalahan di antara mereka berdua. Kalau aku sama kedua-duanya masih sering guyon. Aku sering sama-sama Nunu, karena memang aku nebeng dia. Menyenangkan banget akhirnya aku bisa deket sama dia. Kenangan indah yang pernah aku inget cuma saat kita tertawa bareng, aku pernah juga diajak ke pasar ketemu orang tuanya. Menyenangkan sekali bisa temenan sama dia. Anak-anakpun menganggap kita kayak kakak beradik. Aku cuma ketawa aja tapi dalam hati aku bersyukur karena Allah telah mengabulkan segenap keinginanku.

Perlahan-lahan aku mulai cerita riwayat hidupku dan kuutarakan betapa aku ingin jadi sahabatnya. Entah kenapa, akupun heran kenapa aku sedemikian error. Rupanya obsesi ini telah membuatku begitu gila. Aku bingung harus bagaimana dan dia hanya tersenyum saja.
Selang waktu berganti, hubunganku dan dia tetap menyenangkan. Sayang libur semester telah datang. Akhirnya aku jauh juga dari dia. Begitu menyakitkan, itu yang kurasa. Akupun merasa aneh mendadak betapa sepinya hidupku, bahkan dikeramaianpun aku tetap merasa sepi. Aku sedih dan kalut dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku lari keluar rumah. Suasana sedang turun hujan, tapi aku tak peduli. Dibelakangku terdengar Iyus memanggil-manggil, tapi aku tetap diam dan terus berlari. Sampai akhirnya dia berhasil menyusulku.

Aku takut melihat siapapun. Siapa saja yang ada di sekelilingku. Aku hanya tertunduk lesu. Sampai akhirnya timbul keinginanku untuk menelponnya. Ku tahu saat itu sudah pukul 21.00 WIB. Tapi aku sudah tidak peduli.

Suara tut tut serasa begitu lama dan panjang. Mungkin karena aku sudah tidak sabaran. Jantungku pun kian berdegub kencang. Tiba-tiba saja terdengar suara "Hallo, Assalamu'alaikum" Aku kenal benar akan suara itu. Aku mulai tersenyum dan ingin sekali aku teriak. Yah namanya juga sudah gila he he. Aku becanda dengannya mencoba mencairkan suasana hatiku yang semakin beku. Sungguh menyenangkan sekali. Tapi kesenangan itu begitu cepat lenyap. Tiba-tiba saja pintu kabin diketuk. "Wes bengi Ma, ape tutup!" Kata pemilik wartel dengan nada ketus. Aku pingin marah tapi juga gak berani. Dalam hati aku mengumpat 'Jancok wong aku bayar kok diusir to!' Ya sudahlah. kuputus hubungan teleponku dengan Nunu.
Malam itu aku bahagia banget tapi juga sedih. Selang beberapa waktu aku lama tidak ketemu sama dia. Pas capek-capeknya dari maen di rumah temen, mbak bilang kalau Nunu baru aja dari rumah. Mendadak aku kegirangan, senang dan berharap dia masih dikamarnya. Dasar bego, sudah jelas-jelas sepedanya gak ada. HUH

Kebahagiaanku ternyata tak berlangsung lama, bahkan lima menitpun tidak sampai. Karena kata-kata mbak berikutnya cukup membuatku shock. Nunu keluar dari kos, alasannya simple karena adeknya minta kuliah. Jadi Nunu gak bisa kos lagi. Aku kecewa banget dan mulai frustasi. Aku bingung, akupun marah. Tapi Gak jelas siapa yang sebenarnya aku marahi.
Tiap hari tidak henti-hentinya aku memikirkannya. Pingin rasanya aku teriak sekeras-kerasnya. Rasanya aku sudah gak sanggup lagi menghadapi ini semua. Aku mencari pelampiasan kemana-mana tapi tak seorangpun teman yang bisa aku ajak berbagi. Aku mulai menangis. Ya Allah apa yang harus aku perbuat, tabahkanlah aku...

Kuliah mulai aktif lagi, dan tetap saja perasaanku masih kacau. Aku banyakan melamun dan sering diam. Ketemu Nunu rasanya ogah biarpun rasa kangen ini begitu besar. Ku amati sikapnya semakin hari semakin aneh, serasa menghindar dariku. Atau mungkin cuma pikiranku saja. Tapi aku malah tambah negatif thinking, mungkin Nunu mau temenan sama aku dulu karena aku adek ibu kosnya, jadi dia sungkan. "Kelihatannya dia tidak sepenuh hati ingin menjadi temanku, apalagi sahabatku"

Rasanyanya sesak sekali hati ini. Membayangkan kenyataan seburuk itu. Dalam pikiranku cuma terngiang "Nunu hanya teman Iyus, bukan temanku" Aku mulai meratap. Sering aku melamun bahkan kadang seperti orang linglung. Dari dari waktu ke waktu hubungan kita pun semakin meregang. Seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain.
Rupa-rupanya beberapa teman sudah membaca situasi itu, bertanya-tanya apa kita sedang berantem? Aku hanya tersenyum saja. Lalu bilang aku juga gak tau kenapa." Rupa-rupanya nuril menjauhiku". Sungguh terasa begitu menyakitkan. Segalanya terasa semakin amburadul dan gak jelas siapa yang musuh, siapa yang teman. Apa aku sayang dia sebagai sahabatku, ataukan aku membencinya karena dia musuhku. Akupun tak mengerti dan semakin berupaya untuk menghapus dia dari kehidupanku.

Suatu ketika timbul kembali keinginanku untuk mengorek alasan mengapa dia menjauhiku. Karena sesungguhnya aku penasaran. Apakah benar aku tidak pernah dianggapnya sebagai seorang teman? Aku dekati dia dan kadang-kadang aku ajak dia bercanda. Responnya sungguh di luar dugaan. Kurang ramah bahkan gurauankupun seperti dianggapnya sebagai tantangan. Kalau aku memukulnya ringan, dia bakal memukul dua kali lebih berat.

Tapi kutampis jauh-jauh pikiran burukku dan aku mulai untuk positif thinking, alhasil setelah beberapa bulan akhirnya aku bisa biasa lagi sama dia. Dan aku selalu berusaha menunjukkan betapa aku menghargainya dan tetap ingin menjadi sahabatnya. Aku cuma punya satu tekat. Dia adalah saudaraku, Tapi aku tidak ingin berusaha memilikinya. Biar semua berjalan sesuai kehendak-Nya.

Semoga kamu mengerti. Semoga kamu memahami. Semoga kamu meyakini. Kita berdua sobatan bukan? He he he
Thanks ya Sobat! Semua tak kan lagi indah tanpamu.

1 Comment:

  1. yuni said...
    Kadang memang obsesi tu bagus tuk dimiliki seseorang, tapi kita harus sadar bahwa tidak semua keinginan kita bisa tercapai. Yang penting Jangan sampai obsesi bisa menghancurkan diri kita sendiri

Post a Comment