Pernah gak merasakan suka banget pada suatu hal sampai-sampai kita rela ngelakuin apa saja untuk mendapatkan itu? Itulah yang dinamakan obsesi. Aku yakin teman-teman semua pasti punya obsesi. Entah obsesi pingin jadi superstar, dai kondang, penyanyi dangdut, orang sukses, atau tukang rebut pacar orang. LOH he he
Aku gak mau bilang obsesi itu bagus atau gak, yang jelas semua hal pasti ada nilai positif maupun negatifnya. Mungkin untuk beberapa hal obsesi tu bagus. sebagai contoh sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah aku selalu terobsesi untuk jadi yang pertama atau setidaknya menjadi yang paling baik diantara teman sebangkuku. Jadi sewaktu dia mendapatkan nilai yang lebih aku selalu berusaha untuk menyainginya. Kulakukan apa saja untuk meraih semua itu. Mulai dari belajar setiap hari, sering ke perpustakaan, belajar mengerjakan soal, sampai-sampai lupa buat cari teman. Dengan adanya obsesi aku semakin terpacu untuk terus berusaha. Inilah salah satu nilai positif yang kudapat karena memiliki obsesi.
Tapi bertolak belakang dari itu, bisa saja dengan adanya obsesi aku menjadi buta mata. Kulakukan segala cara untuk mencapai tujuanku. Entah mencontek atau sewaktu ujian aku diam-diam buka buku. Atau bahkan mungkin berbuat yang lebih parah dari itu.he he. Eits jangan salah sangka ya, aku yakin pasti hampir semua orang pernah melakukannya. Iya to?
Obsesi terbesarku yang pernah membuatku begitu terpuruk adalah obsesi untuk mendapatkan perhatian dari seorang teman. Aneh mungkin, punya obesi kok ingin dapet perhatian teman. Kayak gak ada yang lebih keren aja. Kalau boleh jujur aku berasal dari lingkungan keluarga yang begitu baik. Aku bangga dihadirkan di tengah-tengah mereka. Keluarga yang begitu pengertian, saling menyayangi, perhatian, dan demokratis. Pokoke gak ada matinya dah!
Mungkin temen-temen merasa aneh. Punya keluarga yang sesempurna itu kenapa aku masih punya obsesi untuk mendapatkan perhatian dari seorang teman. Lebih rasional kali kalau aku ternyata berasal dari keluarga yang broken home. Yang Pastinya butuh banyak sekali perhatian.
Aku cuma bisa tegaskan. Segala yang terjadi atas perubahan diri kita adalah karena lingkungan. Lingkungan bisa mebentuk diri kita menjadi apa saja. Lingkungan bisa menguatkan kita, bahkan lingkungan bisa menghancurkan kita dengan label-label yang tak bertanggung-jawab. Dan itu yang terjadi padaku. Sejak kecil aku telah mengalami banyak celaan dari masyarakat. eit yang jelas bukan sampah masyarakat LO. :) Mereka melabeli diriku seenaknya saja. Mereka tidak sadar biar anak kecil juga memiliki kepekaan yang sama seperti mereka. Dasar gak punya otak! UPS!
Tega benar mereka, mungkin maksudnya bercanda tapi itu sungguh keterlaluan. Aku yang ceria, aku yang selalu pede untuk tampil di muka umum, aku yang suka sepak bola... dan aku aku yang lain. Mereka merengut itu semua dariku. Perlahan-lahan aku mulai lupa diri (bukan amnesia) dan mulai bingung untuk melihat jati diriku yang sebenarnya. Di sekolahku sama saja, tidak ada orang yang benar-benar dewasa. Yang bisa memahami perasaan orang lain. Aku semakin menjadi sosok yang benar-benar brutal, mudah tersinggung dan makin pendiam. Tapi disana aku memiliki teman-teman dekat. Orang yang dulu pernah aku anggap sebagai pelipur lara.
Bams, lima tahun aku temenan sama dia. Dia yang paling sering kerumah bahkan sama keluargaku sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Tapi sayang disaat aku dan keluarga menaruh kepercayaan padanya. Dia berkhianat. Dia seorang Klepto, dan ingin sekali aku mengingkari hal itu.
Tian, teman yang menyenangkan, sama-sama egois, mau menang sendiri, tapi sayang kurang perhatian (correct: itu dulu sekarang sudah gak. Alhamdulillah). Padahal jarak rumahku sama dia gak terlalu jauh. Wong sekampung. he he .
Mirna, Orang yang pernah aku sayangi dulu. Sayang aku mengkhianatinya, padahal dia sayang banget sama aku bahkan setia menungguku sampai 4 tahun. Sampai sekarang mungkin dia masih sayang sama aku soalnya dia masih sering menemani aku di saat aku kesepian (By phone lo, jangan pikir macam-macam). Biarpun kelihatannya dia baru aja menikah. Keliatannya pengkhianatanku ke dia memberikan karma bagiku. Makanya hubunganku gak pernah bertahan lama. Bahkan sering berantakan.
Tri, Yach cewek ini ternyata cuma mainin aku aja. Hix
Arti, Sama aja kayak Tri. Lha wong temennya. Dasar Stupid sobatan kok disukai dua-duanya.
Icha, Sahabat terbaikku di SMA. Kita banyak sekali persamaan. Dan kita selalu nyambung. Setia dan menyenangkan. Sayang karena kebodohan kita berdua kita jadi jauh. Kita sama-sama saling sayang tapi berusaha tuk menyangkalnya (Mungkin). Tapi sekarang uda baikan lagi baru beberapa bulan yang lalu. Tapi aku menyadarisegalanya telah berubah.
Iyus, Dia temen deket terakhir yang aku temui. Sidikit mengenaskan nasibnya. he he (Sori Bos). Kayaknya pas aku nemuin, dia lagi merana kayak ditinggal pacar aja. Rupanya dia lagi berteman deket banget sama seseorang cuma ada trouble. Dia lagi terobsesi untuk mempertahankan temennya itu sampai-sampai melupakan segalanya, bahkan temen deket yang ada di dekatnya. Jadinya double trouble deh.
Bersambung...
Aku gak mau bilang obsesi itu bagus atau gak, yang jelas semua hal pasti ada nilai positif maupun negatifnya. Mungkin untuk beberapa hal obsesi tu bagus. sebagai contoh sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah aku selalu terobsesi untuk jadi yang pertama atau setidaknya menjadi yang paling baik diantara teman sebangkuku. Jadi sewaktu dia mendapatkan nilai yang lebih aku selalu berusaha untuk menyainginya. Kulakukan apa saja untuk meraih semua itu. Mulai dari belajar setiap hari, sering ke perpustakaan, belajar mengerjakan soal, sampai-sampai lupa buat cari teman. Dengan adanya obsesi aku semakin terpacu untuk terus berusaha. Inilah salah satu nilai positif yang kudapat karena memiliki obsesi.
Tapi bertolak belakang dari itu, bisa saja dengan adanya obsesi aku menjadi buta mata. Kulakukan segala cara untuk mencapai tujuanku. Entah mencontek atau sewaktu ujian aku diam-diam buka buku. Atau bahkan mungkin berbuat yang lebih parah dari itu.he he. Eits jangan salah sangka ya, aku yakin pasti hampir semua orang pernah melakukannya. Iya to?
Obsesi terbesarku yang pernah membuatku begitu terpuruk adalah obsesi untuk mendapatkan perhatian dari seorang teman. Aneh mungkin, punya obesi kok ingin dapet perhatian teman. Kayak gak ada yang lebih keren aja. Kalau boleh jujur aku berasal dari lingkungan keluarga yang begitu baik. Aku bangga dihadirkan di tengah-tengah mereka. Keluarga yang begitu pengertian, saling menyayangi, perhatian, dan demokratis. Pokoke gak ada matinya dah!
Mungkin temen-temen merasa aneh. Punya keluarga yang sesempurna itu kenapa aku masih punya obsesi untuk mendapatkan perhatian dari seorang teman. Lebih rasional kali kalau aku ternyata berasal dari keluarga yang broken home. Yang Pastinya butuh banyak sekali perhatian.
Aku cuma bisa tegaskan. Segala yang terjadi atas perubahan diri kita adalah karena lingkungan. Lingkungan bisa mebentuk diri kita menjadi apa saja. Lingkungan bisa menguatkan kita, bahkan lingkungan bisa menghancurkan kita dengan label-label yang tak bertanggung-jawab. Dan itu yang terjadi padaku. Sejak kecil aku telah mengalami banyak celaan dari masyarakat. eit yang jelas bukan sampah masyarakat LO. :) Mereka melabeli diriku seenaknya saja. Mereka tidak sadar biar anak kecil juga memiliki kepekaan yang sama seperti mereka. Dasar gak punya otak! UPS!
Tega benar mereka, mungkin maksudnya bercanda tapi itu sungguh keterlaluan. Aku yang ceria, aku yang selalu pede untuk tampil di muka umum, aku yang suka sepak bola... dan aku aku yang lain. Mereka merengut itu semua dariku. Perlahan-lahan aku mulai lupa diri (bukan amnesia) dan mulai bingung untuk melihat jati diriku yang sebenarnya. Di sekolahku sama saja, tidak ada orang yang benar-benar dewasa. Yang bisa memahami perasaan orang lain. Aku semakin menjadi sosok yang benar-benar brutal, mudah tersinggung dan makin pendiam. Tapi disana aku memiliki teman-teman dekat. Orang yang dulu pernah aku anggap sebagai pelipur lara.
Bams, lima tahun aku temenan sama dia. Dia yang paling sering kerumah bahkan sama keluargaku sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Tapi sayang disaat aku dan keluarga menaruh kepercayaan padanya. Dia berkhianat. Dia seorang Klepto, dan ingin sekali aku mengingkari hal itu.
Tian, teman yang menyenangkan, sama-sama egois, mau menang sendiri, tapi sayang kurang perhatian (correct: itu dulu sekarang sudah gak. Alhamdulillah). Padahal jarak rumahku sama dia gak terlalu jauh. Wong sekampung. he he .
Mirna, Orang yang pernah aku sayangi dulu. Sayang aku mengkhianatinya, padahal dia sayang banget sama aku bahkan setia menungguku sampai 4 tahun. Sampai sekarang mungkin dia masih sayang sama aku soalnya dia masih sering menemani aku di saat aku kesepian (By phone lo, jangan pikir macam-macam). Biarpun kelihatannya dia baru aja menikah. Keliatannya pengkhianatanku ke dia memberikan karma bagiku. Makanya hubunganku gak pernah bertahan lama. Bahkan sering berantakan.
Tri, Yach cewek ini ternyata cuma mainin aku aja. Hix
Arti, Sama aja kayak Tri. Lha wong temennya. Dasar Stupid sobatan kok disukai dua-duanya.
Icha, Sahabat terbaikku di SMA. Kita banyak sekali persamaan. Dan kita selalu nyambung. Setia dan menyenangkan. Sayang karena kebodohan kita berdua kita jadi jauh. Kita sama-sama saling sayang tapi berusaha tuk menyangkalnya (Mungkin). Tapi sekarang uda baikan lagi baru beberapa bulan yang lalu. Tapi aku menyadarisegalanya telah berubah.
Iyus, Dia temen deket terakhir yang aku temui. Sidikit mengenaskan nasibnya. he he (Sori Bos). Kayaknya pas aku nemuin, dia lagi merana kayak ditinggal pacar aja. Rupanya dia lagi berteman deket banget sama seseorang cuma ada trouble. Dia lagi terobsesi untuk mempertahankan temennya itu sampai-sampai melupakan segalanya, bahkan temen deket yang ada di dekatnya. Jadinya double trouble deh.
Bersambung...
Labels: Curhat
0 Comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)